Analisis Komparasi Profitabilitas Sebelum dan Sesudah Penawaran Umum Saham Perdana

 

 

PT. Adhi Karya (Persero) Tbk dengan kode saham ADHI  adalah perusahaan terbuka yang bergerak di bisnis jasa konstruksi, jasa perekayasaan dan investasi bidang infrastruktur di Indonesia. Adhi Karya merupakan salah satu dari tiga perusahaan konstruksi terbesar di bidang konstruksi

Tabel 1. Perhitungan Rasio Keuangan PT Adhi Karya Sebelum IPO

TAHUN

GPM OPM NPM ROA ROE ROI
2000 DESEMBER 0.05 0.04 0.04 0.02 0.20

0.03

2001 DESEMBER

0.06 0.04 0.04 0.04 0.23 0.04
2002 DESEMBER 0.06 0.03 0.03 0.05 0.21

0.04

2003 DESEMBER

0.06 0.05 0.02 0.05 0.20

0.03

RATA-RATA 0.06 0.04 0.03 0.04 0.21

0.04

Keterangan:

GPM : Gross profit margin

OPM : Operating profit margi

NPM : Net profit margin

ROA : Return on asset

ROE : Return on equity

ROI : Return on investment

 

Tabel 2. Perhitungan Rasio Keuangan PT Adhi Karya Setelah IPO

TAHUN

GPM OPM NPM ROA ROE ROI

2005 DESEMBER

0.07 0.06 0.03 0.05 0.21 0.03

2006 DESEMBER

0.09 0.06 0.02 0.04 0.22 0.03
2007 DESEMBER 0.09 0.06 0.02 0.04 0.21

0.03

2008 DESEMBER 0.08 0.06 0.01 0.02 0.14

0.02

RATA-RATA 0.08 0.06 0.02 0.04 0.20

0.03

Keterangan:
GPM : Gross profit margin
OPM : Operating profit margi
NPM : Net profit margin
ROA : Return on asset
ROE : Return on equity
ROI : Return oniInvestment

 

ANALISIS HASIL PERHITUNGAN:

*Dari hasil tabel 1 dan tabel 2dapat dilihat bahwa hasil perhitungan rasio gross profit margin (GPM)
untuk empat tahun sesudah IPO menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dibandingkan dengan empat tahun sebelum IPO.Nilairata-rata GPM sebelum IPO sebesar 0,06 berarti pada setiap Rp 1 penjualan menghasilkan laba kotor sebesar Rp 0,06. Nilai ratarata GPM sesudah IPO sebesar 0,08 berarti pada setiap Rp1 penjualan menghasilkan laba kotor sebesar Rp 0,08. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mengalami peningkatan dalam operasi perusahaan. Nilai GPM bagi semua perusahaan harus cukup besar. Sebab dengan menggunakan laba kotor inilah perusahaan dapat menutup biaya operasi, pajak penghasilan dan biaya modal. Pada keadaan normal
GPM haruslah bernilai positif karena menunjukkan perusahaan mampu menjual produknya diatas harga pokok sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian. Hal tersebut menandakan bahwa laba kotor yang dihasilkan dapat menutupi biaya yang bervariasi yang
digunakan untuk melakukan kegiatan penjualan.

*Dari hasil tabel 1 dan tabel 2 dapat dilihat bahwa hasil perhitungan rasio operating profit margin (OPM)untuk empat tahun sesudah IPO menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dibandingkan dengan empat tahun sebelum IPO. OPM digunakan untuk mengukur kemampuan tingkat keuntungan operasi yang diperoleh tiap rupiah penjualan. Nilai rata-rata OPM sebelum IPO sebesar 0,04 berarti pada setiap Rp 1 penjualan menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,04. Nilai rata-rata OPM sesudah IPO sebesar 0,06 berarti pada setiap Rp1 penjualan menghasilkan laba operasi sebesar Rp 0,06. OPM yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mengalami peningkatan kemampuan untuk mendapatkan keuntungan operasi. Maka dapat disimpulkan bahwa operasi perusahaan semakin efisien.

*Dari hasil tabel 1 dan tabel 2 dapat dilihat bahwa hasil perhitungan rasio net profit margin (NPM)untuk empat tahun sesudah IPO menunjukkan penurunan nilai rata–rata dibandingkan dengan empat tahun sebelum IPO. Nilai rata-rata NPM sebelum IPO sebesar
0,03 berarti pada setiap Rp 1 penjualan menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,03. Nilai rata-rata NPM sesudah IPO sebesar 0,02 berarti pada setiap Rp 1 penjualan menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,02. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan tidak mengalami peningkatan atau tidak lebih efisien sesudah IPO. Perusahaan yang sehat seharusnya memiliki NPM yang positif yang menandakan bahwa perusahaan menghasilkan laba bersih.

*Dari hasil tabel 1 dan tabel 2 dapat dilihat bahwa hasil
perhitungan rasio return on asset (ROA)untuk empat tahun sesudah IPO tidak menunjukkan peningkatan maupun penurunan nilai rata-rata dibandingkan dengan empat tahun sebelum IPO. ROA merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Nilai rata-rata ROAsebelum IPO sebesar 0,04 berarti pada setiap Rp 1 aktiva menghasilkan keuntungan Rp 0,04. Nilai ratarata ROA sesudah IPO sebesar 0,04 hal ini berarti pada
setiap Rp1 aktiva menghasilkan keuntungan Rp 0,04. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen Adhi Karya belum menggunakan asetnya dengan efisien untuk menghasilkan laba yang lebih besar setelah IPO.

*Dari hasil tabel 1 dan tabel 2 dapat dilihat bahwa hasil perhitungan rasio return on equity (ROE) untuk empat tahun sesudah IPO menunjukkan penurunan nilai rata-rata dibandingkan dengan empat tahun sebelum IPO. ROE merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham. Rasio ini menunjukkan seberapa banyak rupiah yang diperoleh dari laba bersih untuk setiap rupiah yang diinvestasikan oleh para pemegang saham (pemilik perusahaan). Nilai rata-rata ROE sebelum IPO sebesar 0,21 berarti pada setiap Rp 1 modal menghasilkan keuntungan Rp 0,21. Nilai rata-rata ROE sesudah IPO sebesar 0,19 hal ini berarti pada setiap Rp 1 modal menghasilkan keuntungan Rp 0,19. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengembalian (return) yang akan diperoleh para pemegang saham baik saham biasa maupun saham preferen dari modal yang ditanamkan pada perusahaan
tersebut semakin kecil. Pada dasarnya rasio ini sering digunakan oleh para investor dalam pengambilan keputusan pembelian saham suatu perusahaan.

*Dari hasil tabel 1 dan tabel 2 dapat dilihat bahwa
hasil perhitungan rasio return on investment (ROI)untukempat tahun sesudah IPO menunjukkan penurunan nilai rata-rata dibandingkan dengan empat tahun sebelum IPO. Nilai rata-rata ROI sebelum IPO sebesar 0,04 berarti pada setiap Rp1 modal yang diinvestasikan pada keseluruhan aktiva menghasilkan keuntungan Rp0,04. rata-rata ROI sesudah IPO sebesar 0,03 hal ini berarti pada setiap Rp1 modal yang diinvestasikan pada keseluruhan aktiva menghasilkan keuntungan Rp0,03. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mengalami penurunan efisiensi penggunaan total aktiva dalam menghasilkan keuntungan bersih.

KESIMPULAN:

Dengan demikian berarti terdapat perbedaan antara kinerja keuangan Adhi Karya sebelum dan sesudah IPO yang didasarkan pada pengukuran gross profit margin. Kinerja berdasarkan gross profit margin mengalamipeningkatan (lebih baik) secara signifikan antara sebelum dan sesudah IPO. Keadaan ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan setelah IPO menjadi lebih baik dalam usaha meningkatkan laba sebelum pajak yang diperoleh perusahaan per Rupiah penjualan.

 

 

 

 

By andrianhermawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s